Tak kenal maka tak sayang. Peribahasa ini sudah berjuta-juta kali disebut dan mungkin saja terlalu sering Anda dengar. Nyatanya, memang begitu.

Bagaimana bisa sayang, jika tidak kenal? Bagaimana bisa menghargai keberagaman jika tak pernah mencoba masuk ke dalam lingkungan yang inklusif? Bisa-bisa apa yang berbeda selalu dianggap musuh,lawan, dan kesalahan.

Para sineas Indonesia tak jarang “merangkul” isu perbedaan dan keberagaman dalam film-film mereka. Medium film jadi jembatan untuk menyampaikan tak hanya pentingnya toleransi, tapi memperlihatkan wajah sesungguhnya masyarakat Indonesia yang majemuk.

Jadi, daripada saling curiga, lebih baik saling berbagi popcorn, keripik dan aneka cemilan lain saat menonton film-film berikut ini.

(Dok: Rumah Film)
Laskar Pelangi

Film yang diangkat dari novel laris karya Andrea Hirata ini berkisah tentang 10 anak di desa Gantung, Belitung Timur yang bersekolah di sekolah Muhammadiyah yang nyaris saja dibubarkan karena kekurangan murid.

Tak cuma memotret pendidikan di area miskin dan ketimpangan sosial ekonomi, tapi juga memperlihatkan daerah Belitung yang multi etnis dengan kehadiran A Kiong, satu-satunya anak keturunan Tionghoa yang belajar di sekolah Muhammadiyah tersebut.

Persahabatan 10 anak berbeda latar belakang ini menjadi daya tarik tersendiri. Dan memang terbukti tak hanya novelnya yang laris dicetak hingga jutaan kopi, film Laskar Pelangi besutan Riri Riza dan Mira Lesmana ini masuk daftar film Indonesia terlaris sepanjang masa.

(Dok. Starvision Plus)
Cek Toko Sebelah

Film bertema keluarga yang dibalut komedi ini karya Ernest Prakasa ini berpusat pada keluarga Koh Afuk (Chew Kin Wah), pemilik toko kelontong yang—seperti kebanyakan keluarga Tionghoa lain yang berdagang—berencana untuk meneruskan toko miliknya kepada anak yang ia percaya, Erwin (diperankan oleh Ernest).

Erwin yang punya karier menjanjikan dan lulusan luar negeri harus menerima kenyataan bahwa ia akan diwariskan toko kelontong keluarga. Menariknya, film ini memperlihatkan banyak aspek kebhinekaan yang menarik.

Di antaranya, kakak Erwin, Yohan (diperankan oleh Dion Wiyoko) beristirikan seorang perempuan Jawa. Para pekerja di toko kelontong yang punya latar ras berbeda-beda, termasuk toko sebelah saingan toko Koh Afuk.

(Dok. Dapur Film)
Tanda Tanya

Film bikinan Hanung Bramantyo ini memang mengundang kontroversi dari beberapa pihak. Meski begitu, banyak juga yang menganggap bahwa film ini (hanya satu dari sedikit film Indonesia) jujur dan berani mengungkap fakta kondisi bermasyarakat di Indonesia.

Film ini berkisah tentang beberapa tokoh yang hidup di Semarang, Jawa Tengah. Ada Menuk, perempuan muslim yang bekerja di restoran milik keluarga Tionghoa yang menjajakan menu makanan mengandung babi.

Atau ada juga Surya yang ingin menjadi aktor namun hanya mentok jadi pemain figuran saja. Hingga suatu hari ia mendapat peran utama sebagai Yesus di sebuah pentas drama Paskah dan terjadi konflik batin.

(Dok. Sembilan Matahari)
Cin(T)a

Film yang mengangkat tema cinta beda agama karya Sammaria Simanjuntak ini memang bergerak di ranah independen. Namun berkat dialog yang menggugat dan memikat, sekaligus cara bertuturnya begitu bersahaja membuat film ini kemudian banyak dibicarakan.

Berkisah tentang kisah cinta antara Cina, pemuda asal Medan beretnis Tionghoa dan beragama Kristen dengan Annisa, perempuan keturunan Jawa yang beragama Islam. Dari sini mereka “menggugat” perbedaan dan bertanya-tanya pada Tuhan, mengapa mereka diciptakan berbeda.

Film ini bukan semata-mata film romantis belaka, tapi juga kritis membaca gesekan sosial yang terjadi di masyarakat—membawa kita untuk merenung lebih jauh.

Bid’ah Cinta

Cinta beda agama sudah lumayan sering diangkat, seperti film Cin(T)a di atas, tapi bagaimana jika sudah satu agama tapi terbentur perbedaan pemahaman keagamaan?

Inilah yang terjadi dalam film buatan Nurman Hakim ini. Kisah cinta antara Khalida dan Kamal tersandung urusan paham agama. Antara Islam puritan dan tradisional.

Konflik ini kemudian menyebar ke lingkungan sekitar mereka yang turut tersengat. Layaknya kisah Romeo dan Juliet, cinta Khalida dan Kamal terancam kandas.