Punya pertemanan sehat tentu jadi cita-cita semua orang. Tak melulu soal teman yang punya kesadaran kesehatan tinggi atau yang seru diajak olahraga bersama, tapi siapa sih yang tidak ingin punya pertemanan yang juga sehat memandang perbedaan?

Tak bisa dipungkiri, dalam lingkaran pertemanan, bisa saja ada teman yang kurang bisa menerima perbedaan alias kurang toleran dan bisa jadi cenderung rasis.

Walau insting pertama Anda mungkin akan berkata, lebih baik menjauh dari teman yang kurang toleran. Tapi bagaimana jika Anda berpikir untuk mencoba merangkul mereka, membantu untuk memberi cara pandang yang lebih sehat terhadap perbedaan? Tidak ada salahnya Anda mencoba beberapa cara berikut ini.

  • Ajak mencicipi aneka masakan dari berbagai daerah

Membiasakan perbedaan lewat indera perasa adalah pintu pertama menuju sikap saling menerima dan pengertian. Ajaklah teman Anda untuk mencicipi masakan Korea, Bugis, Papua, Meksiko, dan masih banyak lagi. Meskipun rasa-rasanya tidak langsung ke sasaran, tapi ini bisa jadi langkah awal menerima perbedaan.

  • Berpartisipasi dalam komunitas

Jika teman Anda yang kurang toleran memiliki hobi atau minat khusus, ajaklah ia untuk bergabung dalam komunitas tertentu yang tentunya terbuka untuk siapa saja (bukan malah yang menyuburkan eksklusivitas).

Misalnya, teman Anda suka bercocok tanam, mengapa tidak ikut workshop khusus merangkai bunga atau membuat terarium? Biarkan ia bersinggungan dengan kegiatan baru serta orang-orang yang punya minat sama meski berasal dari latar belakang berbeda-beda.

  • Bergabung dalam aktivitas sosial

Ajak teman Anda untuk terlibat dalam aktivitas sosial. Entah itu membantu gerakan membersihkan pantai, mengunjungi panti asuhan, jadi sukarelawan untuk kampanye kesehatan, berpartisipasi dalam aktivitas donor darah, dan masih banyak lagi. Dengan begitu kepekaan sosial bisa terasah.

  • Travelling bersama

“Orang-orang yang kurang toleran biasanya kurang piknik.” Boleh saja ujaran itu bernada bercanda, tapi ada benarnya. Berpergian ke daerah baru memungkinkan kita bertemu dengan orang-orang baru, terpapar budaya dan bahasa yang asing, juga karakter yang berbeda-beda.

Bertualang ke negeri orang, juga bisa membuat Anda sadar rasanya menjadi minoritas. Bisa jadi saat travelling Anda dihadapkan pada kejadian yang kurang mengenakkan, misalnya tersesat di perjalanan atau kecurian, tapi Anda akan menemukan kenyataan bahwa selalu ada saja orang yang mau menolong.

Baca juga:
Wujudkan Mimpi Anak Marjinal Lewat Pendidikan 
Berjalan Kaki Sambil Menjamah Ragam Wajah Jakarta