Jika punya kesempatan mengitari nusantara, dari Sabang sampai Merauke, kita akan menyadari bahwa Indonesia tak akan pernah berwajah seragam. Mulai dari adat istiadat, agama, hingga bentuk tubuh dan wajah berbeda-beda.

Sayangnya, keberagaman ini dari hari ke hari semakin diuji. Meski begitu, di tengah cukup maraknya aksi intoleran yang terjadi di berbagai daerah, kita masih memiliki 10 kota yang dinilai paling toleran.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan SETARA Institute di akhir tahun 2017, kota Manado menjadi kota paling toleran, diikuti Pematangsiantar, Salatiga, Singkawang, Tual, Binjai, Kotamobagu, Palu, dan Tebing Tinggi.


Menariknya, sejak dilakukan penelitian terakhir terhadap Kota Toleran di tahun 2015, hasilnya tidak terjadi perubahan yang signifikan pada kelompok kota dengan skor toleransi tertinggi.

Salatiga yang terletak di propinsi Jawa Tengah misalnya, selalu berada di peringkat teratas selama dua tahun berturut-turut. Walau hanya terdiri dari empat kecamatan, kota ini menjadi rumah sekitar 30 etnis.

Selain itu di bidang pendidikan, kota ini memiliki dua universitas terkemuka berbasis agama dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, yakni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Tak jarang pula Salatiga diberi label sebagai Indonesia mini.

Cek artikel lain: Pesan Damai dari Berbagai Belahan Dunia

Variabel Penilaian

Penilaian pada studi yang melibatkan 94 kota dari total 98 kota yang ada di Indonesia ini meliputi variabel kebijakan pemerintah kota, tindakan aparatur pemerintah kota, perilaku antarwarga, pemerintah dengan warga, serta relasi heterogenitas lainnya.

Baik yang fokus pada toleransi, kebebasan beragama atau berkeyakinan maupun mengukur toleransi sebagai prinsip yang melekat dalam demokrasi.

Lalu di mana posisi kota-kota besar seperti DKI Jakarta yang relatif heterogen? Nyatanya, untuk tahun 2017, DKI Jakarta berada di posisi terbawah atau jadi kota paling intoleran di Indonesia.

Bersama pula dengan kota-kota di sekitarnya, yakni Bogor dan Depok. Yogyakarta juga masuk ke peringkat enam sebagai kota paling intoleran.

Posisi DKI Jakarta merosot tajam dari peringkat 65 ke posisi terendah ditenggarai terjadi karena gencarnya politisasi identitas keagamaan di DKI menjelang, saat, dan setelah Pilkada 2017.

Ada baiknya kita dan terutama para pemerintah kota mulai belajar untuk menerapkan kebijakan yang kondusif dan non diskriminatif bagi tumbuhnya toleransi dan menjaga hak-hak warganya untuk memeluk agama dan keyakinannya masing-masing.

Menurut SETARA Institute, kota memiliki peran penting sebagai teladan bagi tata kelola masyarakat dan pembangunan iklim kebhinekaan. Bisa saja, langkah awal yang bisa dilakukan, diawali dengan belajar dari kota-kota paling toleran di Indonesia.