Toleransi tentu bisa berdefinisi luas. Tidak hanya berkutat soal toleransi agama, namun juga toleransi social ekonomi yang beragam

Jika di Maluku ada sebuah gerakan yang mewadahi mimpi-mimpi anak pelosok, maka di Jakarta berdiri pula satu komunitas yang aktif bergerak dalam memfasilitasi banyak anak dari keluarga marjinal demi mendapatkan akses pendidikan.

Namanya Yayasan Bulir Padi (YBP). Berdiri semenjak 2002 lalu, komunitas ini sangat menaruh kepedulian terhadap kondisi akan banyaknya anak jalanan, pengamen, pengemis di Jakarta yang terdiri dari anak-anak di bawah umur dan remaja.

Keprihatinan dan kepedulian itu pun perlahan menjadi suatu itikad baik, yang lalu menjadi kaki-kaki yang bergerak nyata demi merengkuh perubahan.

YBP memulai dengan terjun ke lapangan dan berdialog langsung dengan mereka melalui sebuah yayasan yang bergerak khusus menangani problema anak jalanan. Mereka hendak melakukan intervensi agar anak-anak tersebut tidak putus sekolah dan memilih jalan pintas dengan menjadi anak jalanan.

YBP memulai praktek-praktek pendidikan dan pembinaan dengan tujuan mengubah mental dan karakter para anak jalanan menuju perilaku-perilaku positif dan kelak bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Bulir Padi percaya bahwa pendidikan merupakan salah satu alat untuk membantu mereka yang berada dalam kondisi marjinal bisa segera keluar dari belitan kemiskinan.

YBP turut serta dalam memberikan beasiswa sekolah, serta memberikan pendampingan pembelajaran dalam bentuk workshop yang pada dasarnya dilakukan oleh relawan, sesuai dengan kebutuhan topik yang dibutuhkan dan keahlian relawan itu sendiri.

Tia Sutresna, salah seorang pendiri YBP menuturkan bahwa sebenarnya, tak ada strategi khusus yang membuat komunitas ini tetap eksis sampai sekarang. Mereka sangat menghargai hubungan dengan berbagai organisasi lain yang akhirnya bermuara pada aksi saling membantu dalam meraih tujuan bersama demi membangun bangsa.

“Saya tidak bisa mengatakan apakah strategi yang kami lakukan selama ini adalah sebuah strategi ‘khusus’, namun memang BP (Bulir Padi) selama ini cukup bisa konsisten dan fokus dalam bekerja sesuai misi/visi, serta profesionalisme tim kami.”

Bahkan ia berkisah, selama YBP berdiri, ia telah mendapati banyak kisah yang begitu berkesan. Misalnya, dari seorang bocah kecil, seorang anak binaan yang mempunyai orang tua penjaga warung dan penjual sayur gerobak, kini dapat menjadi seorang kontraktor yang sukses dan dapat menghidupi kedua orang tua-nya.

Ada pula cerita tentang seorang janda penjual jamu yang antusias ketika bertemu Tia. Saking senangnya, ibu itu sampai mencium tangan Tia seraya berterima kasih atas bantuan beasiswa yang diberikan YBP kepada anaknya yang juga tergolong siswa berprestasi.

Tak heran jika Tia berharap bahwa YBP akan terus berkembang dan berkarya dalam hal memberdayakan kaum marjinal dan anak binaan, sehingga mereka dapat menerabas jalur kemiskinan dan menjadi individu-individu yang mandiri, berkarakter serta dapat berkontribusi positif terhadap komunitas dan kemajuan bangsa.

“Masa depan bangsa ada di tangan para generasi penerus, jadi sebetulnya kami hanya memenuhi tanggung jawab kami untuk membantu memupuk talenta anak bangsa, dan menjaga jangan sampai keadaan ekonomi mereka menjadi penghalang terhadap hak ataupun kesempatan yang ada.”

Mereka berharap agar dunia pendidikan di Indonesia akan lebih baik, dengan memberikan 100% akses yang sama terhadap pendidikan untuk semua anak dalam usia layak. Mereka tak ingin jika dalam dunia pendidikan terjadi disparitas yang justru menguntungkan sebagian pihak. Mereka ingin setiap anak, baik di pelosok atau di kota, si kaya dan si miskin, sama-sama mendapatkan akses pendidikan.

(Penulis: Imron Fhatoni. Artikel ini terlebih dahulu tayang di IndoRelawan)