Bagaimana mengenalkan konsep toleransi kepada anak-anak? Cukup sulit. Kita sebagai orang dewasa saja, mungkin memerlukan beberapa detik untuk berpikir, untuk kemudian baru menjelaskan definisi toleransi.

Berbagai cara tentu harus digunakan sehingga arti toleransi yang cukup abstrak, dapat ditransfer dan dipahami dengan baik oleh anak-anak.

Satu cara unik yang dapat dilakukan adalah lewat storytelling. Tim toleransi.id yang beberapa waktu lalu berkesempatan bekerjasama dengan seorang storyteller, menyaksikan sendiri cara si storyteller memasukkan tema toleransi ke dalam sebuah cerita yang ia berikan kepada sekitar 50 anak-anak TK di kawasan Jakarta Utara.

Adalah Paman Gery, sang storyteller itu. Sosok yang satu ini memang sebelumnya sudah dikenal cukup paham dan baik dalam menyampaikan cerita dan dongeng yang menarik bagi anak-anak.

Pada hari itu, cerita yang disampaikan berjudul “Negeri Pelangi”. Kata “Pelangi” tentu dapat mewakili analogi keberagaman yang berasal dari warna-warni yang dimiliki fenomena alam ini.

Paman Gerry sengaja memilih tiga orang anak dengan karakter berbeda, untuk kemudian masing-masing mendapatkan mahkota dengan warna yang berbeda pula, lambang penguasa Negeri Pelangi.

Ketiga raja ini kemudian digambarkan sering bertengkar, sehingga negeri pun tidak terurus. Keadaan negeri semakin runyam ketika ada penjahat hitam datang dan menyandera ketiga raja itu.

Beruntung ketiga raja kemudian menyadari kesalahannnya, kemudian bersatu untuk menghalau penjahat hitam keluar dari negeri. Lewat kisah ini, Paman Gery tentu ingin menanamkan nilai pentingnya kebersamaan dalam keberagaman.

Namun sebuah penutup dongeng tidak mutlak selalu ada. Dalam laman Facebook-nya, Paman Gery pernah berkata, “Mendongeng memang tidak harus ditutup dengan memberikan kesimpulan atau keteladanan dari kisahnya. Makna tersirat justru punya kekuatan tersendiri”.

Nilai keberagaman juga diperkuat dengan hadirnya berbagai balon warna-warni yang mewakilkan berbagai sifat baik manusia. Anak-anak yang mendengarkan, serentak mengikuti instruksi Paman Gerry untuk mengucapkan berbagai sifat tersebut.

Apakah konsep toleransi kemudian dapat hingga di pikiran anak-anak setelah mendengarkan dongeng ini? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun kembali mengutip perkataan Paman Gery dalam akun FB-nya, bahwa setiap cerita pasti punya tempat tersendiri di hati tiap anak. “Dongeng bukan cuma sekadar dongeng. Ia punya kekuatan tak tersentuh yang bisa menggerakkan pikiran dan nurani seseorang”. (RH)