Bush, seorang peserta (disebut Adik dalam program ini) SabangMerauke, senang bukan kepalang saat tahu Kakak (Mentor) SabangMerauke yang bakal menemaninya berjenis kelamin laki-laki. Namun, rasa senangnya langsung hilang ketika kali pertama melihat sang kakak.

“Kakak Sandi gondrong, dia pasti preman,” keluh Bush. Rambut Sandi memang terbilang panjang untuk seorang laki-laki. Frame kacamata tebal plus rahang Sandi yang kuat khas orang Sumatera Utara membuat Bush tambah gentar dengan kakak pendampingnya.

Bush punya alasan kuat mengapa ia takut dengan pria gondrong. Ia bercerita preman-preman di kampungnya memiliki ciri khas rambut yang terurai panjang seperti Sandi.

Bush menyatakan remaja laki-laki berambut panjang di kampungnya sudah pasti tidak sekolah dan jadi preman. “Saya pernah dimintai uang sama preman mabuk makanya saya takut,” ujar Bush.

Persepsi Bush tentang orang gondrong membuatnya sedikit kikuk ketika awal berinteraksi dengan Sandi. Ia lebih banyak menjawab pertanyaan dari kakak pendampingnya alih-alih membuka interaksi. Ketakutan Bush makin menjadi ketika ia melakukan sebuah kelalaian.

Semua berawal ketika setiap peserta mendapatkan botol minum yang harus dibawa setiap hari. Sialnya, Bush menghilangkan botol minum tersebut.

Ketakutannya pun muncul, ia takut dimarahi Famili SabangMerauke (FSM) tempatnya menetap selama di Jakarta. “Ibu selalu mengecek barang-barang kalau saya mau berangkat, dia pasti tahu botol minum saya hilang,” ungkap Bush.

Ia pun memberanikan diri menghubungi Sandi. Dalam pesan singkatnya, Bush mengajak Sandi berkompromi bila FSM-nya bertanya perihal botol minum. Ia meminta kakak pendampingnya tersebut berbohong dengan mengatakan botol minum tersebut dibawa oleh Sandi, bukan hilang.

Sandi kontan menolak. Mahasiswa hukum ini meminta Bush mengakui kesalahannya ketika kedua orangtua “angkatnya” ini bertanya soal raibnya botol minum. Lewat dorongan Sandi, Bush akhirnya berani mengakui.

Esoknya, Bush sudah pasang ancang-ancang dimarahi Sandi. Nyatanya, bukan omelan yang didapat Bush melainkan segelas air mineral dari Sandi. Segelas air itu menjadi titik balik bagi Bush dalam memandang Sandi, “Dari situ saya baru tahu Kak Sandi orangnya pengertian, dia gondrong tapi baik.”

Sebenarnya tak hanya Bush yang belajar dari Sandi, kakak itu juga belajar banyak dari anak SMP tersebut. Sandi bercerita bahwa Bush adalah anak yang kritis, ia kerap mempertanyakan banyak hal yang tabu untuk ditanyakan. “Saat kami ngobrol berdua, Bush pernah tanya ke saya, ‘Kak, kan saya diciptakan Tuhan, terus Tuhan diciptakan siapa?’”

Pertanyaan-pertanyaan kritis dari Bush membuatnya semakin dekat dengan anak Rote tersebut. Sandi mengaku ia juga kerap mempertanyakan banyak hal. Misalnya, ia memutuskan keluar dari kampusnya yang lama karena mempertanyakan aturan memakai jilbab untuk semua mahasiswi, bahkan yang bukan muslim. Baginya hal itu jelas salah satu jenis pemaksaan kehendak oleh satu pihak.

Usaha Sandi untuk menurunkan nilai-nilai positif kepada Bush tak lantas membuatnya mendikte anak tersebut. “Saya tidak bisa menyamakan diri dengan Bush, kami dua orang yang berbeda. Yang saya lakukan hanya berbagi nilai-nilai yang saya yakini dan memberi beragam tawaran ke Bush.”

Semangat Sandi tersebut dipahami betul oleh Bush. Ketika Bush ditanya apa yang paling ia ingat dari kakak pendampingnya, spontan ia menjawab, “Kak Sandi sering cerita dia sekolah jurusan hukum buat bantu orang-orang kecil yang diperlakukan tidak adil. Saya tidak mau sekolah hukum kayak Kak Sandi tapi saya mau bantu banyak orang kayak dia.”

Bush melirik Sandi ketika mengatakan itu. Di pojok ruangan, Sandi sedang asyik memainkan rambut gondrongnya. Rambut yang tadinya menjadi benteng pembatas di antara keduanya.

Artikel ini ditulis dan pernah ditampilkan di SabangMerauke