Ada pemandangan unik di salah satu sudut jalan di Ambon, Maluku saat perayaan Paskah beberapa hari yang lalu. Sekelompok perempuan berjilbab menari di saat proses Jalan Salib berlangsung. Ya, mereka muslimah. Untuk mengetahui siapa mereka, simak cerita Pendeta Jacky Manuputty, seorang pegiat perdamaian dari Maluku yang diterima tim toleransi.id, berikut ini:

“Ah, beta awalnya bertanya-tanya, siapakah teman-teman Muslim yang turut mengisi prosesi Jalan Salib di Kota Ambon pada hari Jumat kemarin? Ternyata jawabannya tak jauh dari dugaan beta, teman-teman dari Sanggar Kayla dan Sanggar Siwalima.

Mereka memang telah terbentuk lama, bahkan sebelum pecahnya kerukunan Maluku tahun 1999. Anak-anak yang berpartisipasi ini adalah generasi kedua dari Sanggar Tifa Siwalima. Orang tua mereka bersahabat akrab dan terus mengembangkan tali persaudaraan melalui aktifitas berkesenian.

Beta mendampingi mereka jauh sebelum terjadinya kerusuhan Maluku 1999. Selama berlangsungnya kerusuhan, mereka tetap berlatih dengan cara sembunyi-sembunyi. Kerusuhan boleh terjadi, tetapi aktifitas berkesenian tetap berlangsung.

Artikel menarik lain: Rumaru Mengubur Dendam di Parigi.

Bersatu di tengah kebencian

Latihan di lokasi-lokasi tersembunyi di tengah amuk api kebencian yang saling menghancurkan merupakan pilihan teman-teman muda ini. Setiap latihan bersama, mereka selalu mengawali dan mengakhirinya dengan doa. Kalau penari Muslim berdoa di awal, maka penari Kristennya berdoa pada akhir latihan. Begitu pula sebaliknya.

Selepas kerusuhan, komunitas tari ini yang pertama sekali di Kota Ambon menggabungkan tarian bernuansa Islam dengan tarian bernuansa Kristen dalam satu koreografi harmoni.

Mereka bertumbuh kini bukan semata-mata sebagai komunitas sanggar, tetapi juga sebagai keluarga. Setiap saat mereka berpartisipasi untuk memeriahkan perayaan-perayaan keagamaan, tak peduli apapun latar belakang keyakinan mereka.

Mereka belajar untuk tahu persis mana ibadah yang tak boleh mereka ikuti, dan mana perayaan yang memungkinkan mereka berpartisipasi. Pada acara tahunan Christmas Carols di Kota Ambon misalnya, teman-teman Muslim dari Sanggar Kayla telah berulangkali berpartisipasi dalam kolaborasi apik dengan teman-teman mereka dari Sanggar Siwalima.

Mereka tawarkan kesejukan melalui harmoni gerak dan nada. Masyarakat menyambutnya dengan sukacita, dan semakin percaya bahwa Allah meletakkan semua perbedaan dalam harmoni untuk memuliakan-Nya”.

Indahnya kerukunan dalam perbedaan!

(Sumber foto: Pendeta Jacky Manuputty)