Sebelumnya tak pernah terlintas di benak Ismail Rumaru, untuk berada di satu sekolah dengan siswa yang sangat beragam.

Dari 58 siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bakti Karya Parigi, mereka berasal dari 25 kota/kabupaten mulai dari Aceh di ujung Barat, hingga Papua di ujung Timur. Dan 13 di antaranya berbeda agama dengannya, yang menganut agama Islam.

Beberapa minggu pertama tinggal di asrama menjadi hal yang sangat berat baginya. Perasaan takut bercampur marah dan dendam.

Bagaimana tidak, pada tahun 1999 saat terjadi konflik agama di Maluku, orang tua Ismail menjadi salah satu korbannya. Ismail pun minta agar dipulangkan kembali ke asal tempat tinggalnya di Ambon.

Belajar Lewat Interaksi

Namun itu semua cerita lama. Kini Ismail sudah menginjak kelas XI di sekolah tersebut. Artinya dia telah lebih dari satu tahun kerasan bersekolah dan tinggal di asrama dengan teman-temannya dari berbagai daerah, dengan latar belakang agama yang berbeda.

Tak satupun yang memaksanya untuk mengubah cara pandangnya terhadap orang-orang yang berbeda agama. Itu semua dirasakannya melalui interaksi langsung.

Belajar di kelas, bermain sepakbola di lapangan sekolah, bercocok tanam, membuat project film pendek, dan kegiatan lain yang mereka lakukan bersama.

SMK Bakti Karya Parigi memang mengembangkan satu sistem unik yang dinamakan kelas multikultural. Sebuah model pembelajaran di mana peserta didik terdiri dari siswa yang berlatar belakang berbeda, mulai dari daerah, suku, etnis, agama, kepercayaan, bahasa, dan budaya.

10 kota paling toleran di Indonesia. Apa saja? Intip di sini.

Menjaga Nilai Bangsa

Lima konsep kelas multikultural adalah; toleransi, perdamaian, eksplorasi budaya, kelas aktif dan terkoneksi.

Di sekolah ini, para siswa berbaur dan merasakan secara langsung nilai toleransi dan perdamaian serta nilai gotong royong, yang merupakan nilai penting bangsa Indonesia yang perlu terus dijaga.

Konsep ini diyakini sebagai sebuah jawaban dari persoalan merebaknya konflik horizontal yang bernuansa SARA.

Kini, Ismail penuh optimis menatap masa depannya. Tak ada lagi perasaan dendam dalam dadanya. Ia justru paling getol ingin merawat perbedaan dalam bingkai keindonesiaan itu, supaya tak ada lagi konflik di Tanah Air tercinta.

(Teks: Day Firman, Videografer: M. Khadafi)

Simak artikel lainnya:
Peace Generation: Perdamaian Lewat Kreativitas
5 Film Indonesia Seru untuk Belajar Hargai Perbedaan