Namaku Annisa Nugraheni, lebih akrab dipanggil Chacha. Aku berasal dari Semarang dan sudah tujuh tahun tinggal di Jerman. Wow lama banget? Hehe iya, aku meninggalkan Indonesia setelah SMA untuk melanjutkan kuliah di Friedrich Schiller University of Jena. Teman-teman mungkin masih jarang mendengar kota kecil Jena di Jerman, kan?

Saat akan pindah ke Jena, rasa takut menyelimuti pikiranku, mengingat stereotype yang Jerman timur yang dikenal rasis dengan kaum Auslander (orang asing). Apa aku akan punya teman? Apakah dosennya akan tetap baik ketika melihat aku berbeda? Ketika pertama kali masuk kuliah, aku satu-satunya yang berhijab dari 60 mahasiswa baru saat itu, dan hanya ada tiga yang bukan orang Jerman, minoritas sekali ya?

Saat melakukan penelitian untuk skripsi, dosen pembimbingku bertanya, “kenapa kamu menggunakan penutup kepala? Apakah kamu seorang muslim?” Setelah aku bercerita alasan menggunakan hijab, tak disangka beliau mengerti Islam dan berkata, “bagaimana kamu melaksanakan salat lima waktu jika berada di lab seharian penuh, apakah boleh beribadah jika tidak di masjid?”.  “Boleh”, kataku.

Kemudian aku meminta izin menggunakan ruangan komputer untuk salat, dan beliau menyambut dengan baik, bahkan membantuku menggeser meja agar aku mendapat ruang yang cukup untuk beribadah. Aku sangat senang karena mendapat perlakuan yang baik dari pembimbingku. Beliau sangat terbuka dan penuh pengertian tentang prinsip atau kepentingan orang lain dan agama lain.

Dok. Pribadi

Pernah juga ketika bulan Ramadan, teman-temanku mengadakan acara kumpul yang disebut “Spielabend“ atau malam bermain. Namun karena aku berpuasa, mereka rela menunggu azan magrib yang saat itu pukul 21:30 untuk makan malam. Aku sudah berkali-kali mengatakan tidak akan terganggu jika mereka makan terlebih dulu, tapi mereka menolaknya. Bahkan ada satu temanku yang hari itu sengaja ikut berpuasa agar merasakan rasanya menahan lapar, “tapi hanya menahan lapar ya. kalau menahan haus aku tidak sanggup,“ katanya.

Ketika azan magrib berkumandang dari handphone-ku dan sesaat setelah aku membatalkan puasa, mereka memelukku dan berkata “du hast es geschafft“ “bist aber sehr toll!“, (kamu berhasil melakukan nya, kamu keren banget). “Hebat banget kamu dan orang muslim lainnya yang bisa melakukan ini selama sebulan penuh,“ imbuh temanku yang hari itu ikut berpuasa menahan lapar. “Aku mungkin bisa kalau hanya tiga hari, bukan tiga puluh hari,“ katanya lagi. Kami semua tertawa. Rasanya bahagia sekali saat itu, memiliki teman-teman yang sangat suportif.

Dulu ketika masih di Indonesia, aku hanya memiliki sedikit teman beragama lain dan tidak pernah merasakan menjadi minoritas, baik urusan agama maupun ras di lingkungan tempatku bertumbuh sejak kecil. Waktu memutuskan merantau ke Jerman, banyak sekali kegundahan dan pikiran bahwa hidup di Jerman sebagai muslim tidak akan mudah, aku akan terlihat paling beda dengan hijabku, dan aku takut akan mendapatkan tindakan diskriminasi.

Namun setelah melewati banyak hal dalam tujuh tahun belakangan ini aku banyak belajar tentang indahnya keberagaman, indahnya menghormati dan memahami prinsip orang lain. Bahkan dari teman-teman di Jerman aku belajar, bahwa berbeda tidak akan membuat sekat dalam hidup bersosial, malahan semakin membuat kita menjadi orang yang terbuka dan berwawasan luas dalam memandang hidup.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Baca juga ini: Aku Muslim, Tapi Tidak Berbahaya!