Satu pesan masuk ke WhatsApp-ku: Sebuah gambar perlengkapan cat air.

“Akhirnya aku beli juga; untuk siap-siap Corona,” tulis si pengirim pesan.

Pesan itu dikirim oleh Sarah, sahabatku dari Austria. Kami adalah teman satu angkatan saat kuliah S2 di Rotterdam, Belanda. Namaku Atika Almira. Di Rotterdam, kota di luar negeri yang pertama kali kutinggali, aku bertemu dengan Sarah yang cerdas dan enerjik.

Sarah tertarik memulai hobi cat air, karena aku membuatkannya gambar cat air saat kami sempat melakukan penelitian di India. 

Satu bulan bersama di India, ada hobi yang senang kita lakukan sepulang mengumpulkan data di lapangan: berenang. Suatu sore, mungkin Sarah tergelitik untuk bertanya, karena saat berenang aku masih mengenakan kostum lengkap: baju renang menutupi seluruh badan dan jilbab. “Kenapa kamu mengenakan jilbab?”

Pertanyaan itu seperti gong yang menggemakan pikiranku. Pertanyaan lanjutan Sarah tambah sulit. “Aku punya teman Muslim juga, dia suka lepas-pakai jilbab. Menurut kamu gimana orang Islam yang nggak pakai jilbab?”.

Saat itu lama sekali aku berpikir sampai akhirnya baru punya jawaban setelah berpisah. Bahwa setiap orang mungkin punya jalannya masing-masing menuju Tuhan, dan jalan yang aku dan dia tempuh mungkin berbeda.

(Dok. pribadi)

Hidup sebagai minoritas membuatku sadar bahwa menjalankan Islam di sini tidak semudah di Indonesia. Salat di India pun di Belanda, tidak bisa seleluasa itu. Tapi juga tidak sulit. Kadang aku salat di kamar, di tangga, pojok ruangan, atau di musala jika ada. Ada kalanya aku minta izin pergi ke masjid saat bekerja bersama, atau melipir dari sesi bermain kartu. Sekembalinya aku ke ruangan, Sarah sontak bertanya “Wah, habis ngapain? Ibadah? Beda banget loh kelihatannya, muka kamu lebih cerah. I’m amazed.”

Aku jadi menyadari, terkadang kita butuh interaksi dengan pemeluk agama yang berbeda, agar bisa lebih memaknai lewat berbagai pertanyaan yang mereka ajukan.

Pesan dengan gambar cat air dari Sarah ditutup dengan bertukar kabar soal Corona di negara kami masing-masing. Kami saling menyemangati. Hatiku hangat memeluk persaudaraan kemanusiaan, merasa hari ini kita tinggal di bumi yang sama dan memperjuangkan hal yang sama: menjaga diri dan orang-orang yang disayang, memberi kesempatan kepada bumi untuk lekas sembuh.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Baca juga:
Serunya Bertukar Makanan di Adelaide
Aku Satu-satunya Berhijab di Antara 60 Mahasiswa