Saya Muhammad Taufik Saputra dari Makassar, Sulawesi Selatan. Saya mau berbagi pengalaman hidup ketika mengikuti sebuah program pendidikan di Jepang, layaknya konsep Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saya masih ingat saat sedang mengikuti kegiatan induksi pada hari pertama di kampus Ehime University. Ketika waktu salat, saya dan teman-teman diberikan izin khusus untuk pergi ke sebuah ruangan yang telah disiapkan untuk menunaikan salat.  Tidak hanya itu, ketika waktu makan siang saya dan teman-teman peserta yang beragama Islam juga disuguhkan dengan menu halal.

Ternyata ini adalah sebuah prosedur yang memang disusun oleh pihak kampus yang menjadi tuan rumah dari program ini. Pihak kampus dan pemerintah setempat telah mengadakan perencanaan pelaksanaan program ini dengan sangat seksama dan mempertimbangkan segala aspek termasuk toleransi dalam beragama.

Saya dan 14 orang lain yang terdiri dari lima mahasiswa muslim dari Indonesia dan 10 mahasiswa Jepang kemudian ditempatkan di sebuah desa bernama Kashiwajima. Kami tinggal bersama di sebuah bangunan tua bekas gedung sekolah.

Karena berasal dari daerah yang berbeda-beda, kami mencoba untuk saling memahami karakter satu sama lain, termasuk kelebihan dan kekurangannya. Suatu hari dosen pembimbing mengajak kami mengikuti festival kembang api. Ditengah ramainya festival, tibalah waktu salat Magrib. Saya dan satu teman sangat kebingungan untuk mencari tempat yang sunyi dan bersih untuk melaksanakan salat.

Dok: Pribadi

Melihat ekspresi kami yang kebingungan, beberapa teman kami dari Jepang kemudian membantu kami untuk mencari tempat untuk kami salat. Setelah lama berkeliling dan tidak berhasil menemukan tempat yang cocok, teman-teman kami dari Jepang akhirnya memutuskan untuk berdiri memblokir sebagian jalan dan membiarkan kami salat di belakang mereka. Ini merupakan hal yang luar biasa yang bisa saya dapatkan dalam hidup saya.

Baca juga: Saya Tidak Menyangka Dia Akan Menjawab Seperti itu!

Menghabiskan waktu selama 11 hari di desa ini memberikan saya banyak kenangan yang tidak terlupakan, persahabatan yang terjalin, membentuk sebuah keluarga kecil. Pengalaman ini mengubah pandangan saya terhadap penduduk Negara jepang. Mereka bukanlah tipikal orang yang apatis terhadap orang lain dan sangat menghargai perbedaan. Pengalaman ini membuat saya belajar bahwa kita seharusnya tidak menilai seseorang dari suku, ras, dan agama, namun lebih mengedepankan sikap toleransi dan kekeluargaan yang dibangun atas dasar percaya. Sekarang saya menjadi pribadi yang lebih memprioritaskan mutual trust dalam menjalin sebuah koneksi dengan orang lain.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.