Nama saya Astrid, berasal dari Padang, Sumatra Barat. Saat ini saya tengah menempuh Pendidikan S2 di Wageningen University, Belanda sudah lebih dari satu tahun. Lingkungan tempat saya tinggal cenderung seperti pedesaan, karena Wageningen adalah kota kecil, kota pelajar yang datang dari berbagai penjuru dunia. Masyarakat di kota ini pun beragam budaya, agama, dan pandangan. Semua orang diterima di Belanda karena negara ini sangat bebas. Tentunya hal ini menguntungkan bagi saya yang seorang muslim, karena saya bisa bebas untuk beribadah.

Menjalankan agama Islam di Belanda ini menantang tapi juga menyenangkan. Menantang karena tempat ibadah di Belanda tidak sebanyak di Indonesia, azan tidak berkumandang dengan lantang ke segala penjuru, berpuasa Ramadan di tengah teman-teman yang tidak berpuasa selama kurang lebih 18 sampai dengan 19 jam dan ditengah perkuliahan, merayakan Idul Fitri ketika sedang ada praktikum, itu semua tidak mudah dan membutuhkan kesabaran.

Namun juga tetap menyenangkan karena saya yang berhijab diberikan ruang untuk tetap berhijab tanpa adanya pandangan negatif dari teman-teman. Bahkan ada beberapa dari mereka yang menyukai hijab yang saya pakai. Selain itu, menyenangkan pula karena di beberapa gedung di kampus Wageningen University terdapat beberapa silence room yang bisa digunakan sebagai tempat shalat.

Saya memiliki seorang teman internasional bernama Liza. Ia beragama Nasrani dan berasal dari Guatemala. Saya pernah bertanya kepada Liza tentang kehidupan muslim di Guatemala. Dia berkata bahwa Islam di negaranya adalah agama minoritas, dan banyak masyarakat di Guatemala yang mudah terpengaruh informasi dari luar, bahwa muslim adalah kelompok radikal dan menyukai peperangan.

Astrid dan Liza (Dok. Pribadi)

Liza tidak percaya dengan hal itu, karena ia berpendapat semua agama mengajarkan kebaikan. Liza pun memiliki kerabat muslim di Guatemala, yang sejauh pengamatannya, adalah orang yang baik. Kala itu kami berbincang di kamar kos Liza. Tidak terasa lamanya kami bercerita, waktu Zuhur telah tiba. Saya yang saat itu datang bersama Nessia yang juga orang Indonesia dan muslim, maka kami pun meminta izin kepada Liza untuk salat Zuhur di kamarnya. Liza mempersilahkan kami, lalu kami menggunakan salah satu sudut kamarnya untuk salat.

Baca juga nih: Belajar Toleran dari Kupang Hingga Christchurch

Pengalaman bersama teman-teman asal Belanda juga tidak kalah menarik. Saya pernah mengambil mata kuliah yang aktivitasnya adalah kerja kelompok dari pagi hingga petang. Saya ditempatkan di antara empat mahasiswa Belanda lain. Di hari pertama kami berkenalan, kami diarahkan pembimbing kelompok untuk memperkenalkan diri dan mengutarakan hal  yang bersifat rahasia. Disini saya mengutarakan kebiasaan saya beribadah, karena beribadah menurut saya adalah sesuatu yang bersifat pribadi. Namun, saya merasa pada hari itu saya harus menginformasikan hal ini karena di waktu tertentu saya tidak bisa berada bersama mereka melakukan kerja kelompok demi kepentingan beribadah.  Dan mereka pun menerima dan tidak masalah dengan hal itu.

Pernah suatu waktu salah seorang dari teman kelompok bertanya kepada saya, “apa yang kamu lakukan selama jam istirahat siang tadi?” Saya menjawab, “makan siang, dan pergi ke gedung Radix untuk beribadah.” Lalu dia menjawab, “wah, sungguh menyenangkan, kamu beribadah maka kamu akan merasakan ketenangan dan kedamaian, sehingga setelahnya kamu bisa semangat dan fokus bekerja.” Saya tidak menyangka dia akan menjawab seperti itu.

Dari pengalaman saya tinggal di Belanda, saya banyak belajar dari mereka yang beragama lain untuk menerima kaum minoritas. Menerima dalam artian memberikan kesempatan bagi kaum minoritas untuk beribadah menjalankan keyakinannya dan tidak mencela kepercayaan yang dianut.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Artikel seru lainnya:
Saya Tidak Ingin Kamu Melewatkan Ibadah Penting Ini!