Saya Adib, saat ini sedang kuliah master jurusan Social Work di Universitas Flinders, di Adelaide, Australia Selatan. Selain kuliah, saya juga bekerja paruh waktu di kantin sekolah, panti jompo dan rumah sakit sebagai asisten katering. Saya muslim yang berasal dari Depok, Jawa Barat. Sebagai seorang muslim yang (berusaha untuk selalu) taat, saya mengupayakan untuk melaksanakan ibadah selayaknya saat di Indonesia. Ini tentunya lebih menantang, namun bukannya tidak mungkin, bukan?

Di Adelaide, tidak sulit untuk mencari masjid atau prayer rooms di ruang publik. Berbeda dengan tempat saya bekerja, walaupun tidak ada ruangan khusus beribadah, tapi ada ruangan yang bisa saya gunakan untuk salat. Saya juga merasakan bagaimana tingginya sikap toleransi rekan kerja yang sangat terbuka dan pengertian dengan kebutuhan religius saya ini.

Selain itu, ketika saya bekerja penuh waktu di Darwin, saya meminta penyesuaian waktu ketika setiap hari Jumat agar bisa melaksanakan sholat Jumat secara berjamaah di Masjid. Ketika bulan Ramadhan, manajer tempat saya pun mengizinkan saya untuk memilih roaster (waktu bekerja) yang paling sesuai untuk saya. Alhamdulillah, saya merasa sangat dihormati dan diterima dengan segala perbedaan ini.

Banyak teman lokal Australia saya yang tertarik dengan Islam dan menanyakan mengenai agama Islam dengan menunjukan rasa ingin tahu yang tinggi. Saya terharu bahwa mereka sangat berpikiran terbuka dan tertarik untuk bertanya, tanpa menghakimi dan berasumsi sendiri.

Adib (paling kanan) dan teman-temannya di Adelaide (Dok: Pribadi)

Saya pun seringkali bermain dengan teman-teman dari Jepang dan Korea selama di Adelaide. Kami seringkali bertukar makanan atau memasak bersama. Mereka mengerti bahwa saya hanya bisa mengkonsumsi makanan halal, dan menyesuaikan dengan kebutuhan diet saya. Bahkan, ketika saya mengunjungi teman saya di Jepang, mereka dengan suka hati mencarikan saya restoran halal dan tempat salat untuk saya. Sungguh, saya sangat terharu dan terkesima dengan kebaikan mereka.

Empat tahun tinggal di Australia menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya, terlebih mengenai toleransi. Lahir dan besar di negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, saya belajar bertoleransi dari perspektif seorang mayoritas. Kini, saya (tengah dan akan terus) belajar bertoleransi dari sisi seorang minoritas. Saya merasakan bahwa culture awareness dan inclusive pratice sangat teramat penting. Kita harus lebih sadar dan peduli bahwa banyak orang di sekitar kita memiliki latar belakang, anggapan, dan pola pikir yang berbeda. So, be humble, curios, and respectful!

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Baca juga:
Saya Tidak Menyangka Dia Akan Menjawab Seperti itu!
Aku Satu-satunya Berhijab di Antara 60 Mahasiswa