Jika kita sudah pernah mendengar banyak gerakan, komunitas, dan organisasi yang bergerak di bidang toleransi dan perdamaian di Indonesia, teman-teman di belahan dunia lain juga tengah menyuarakan hal yang sama.

Berawal dari pengalaman pribadi satu orang, organisasi-organisasi perdamaian bermunculan dan memberikan dampak besar bagi dunia. Beberapa organisasi tersebut bergerak secara global dalam mempromosikan perdamaian. Simak, yuk, beberapa diantaranya: 

“Doa” Perdamaian dari Jepang  

“May Peace Prevail On Earth” adalah pesan yang terus dibawa oleh World Peace Prayer Society (WPPS) sejak tahun 1955 atas inisiasi Masahisa Goi, pendiri WPPS. Goi yang lahir pada tahun 1916 sempat menjadi saksi Perang Dunia II dan merasakan kepedihan dari jatuhnya bom di Hiroshima.

Goi pada akhirnya memulai gerakan yang membawa pesan “may peace prevail in earth”—sebuah pesan yang kerap kali ia sebut sebagai doa. Goi meyakini ketika masyarakat baik di Jepang hingga masyarakat global berada dalam satu doa yang sama, yaitu perdamaian, maka transformasi sosial pasti terjadi.

May Peace Prevail on Earth dapat membawa masyarakat untuk dapat di tengah-tengah perbedaan budaya, keyakinan, dan tradisi. Meski diawali dengan perkumpulan kecil, namun project Goi secara berangsur mampu memberikan dampak yang semakin besar, bahkan saat ini sudah sampai pada level dunia.

Salah satu inisiasi WPPS adalah Peace Pole Project, dengan peletakan tonggak perdamaian bertuliskan May Peace Prevail on Earth dalam berbagai Bahasa. Tonggak ini menjadi representasi dan pengingat bagi masyarakat untuk menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai perdamaian.

Selain itu, tonggak ini menjadi simbolisasi kesatuan dan persamaan harapan akan dunia yang lebih damai. Sudah ada lebih dari 200,000 tonggak yang berdiri di seluruh dunia, dan the World Peace Prayer Society masih terus mengajak berbagai pihak untuk ikut menancapkan tonggak perdamaian di tempat mereka tinggal, agar perdamaian pun ikut berdiri tegak di hati masyarakat yang tinggal di sana.

Belajar-Memimpin-Bertemu

Organisasi yang berada di Amerika Serikat ini dibentuk karena kesadaran bahwa anak-anak muda adalah anak-anak muda adalah kelompok yang memiliki energi besar dan ide yang beragam. Generasi muda inilah yang saat ini tengah membentuk masa depan.

Pembentukan organisasi ini juga didasari oleh fakta bahwa masyarakat Amerika Serikat adalah masyarakat yang beragam. Dengan dasar ini, Interfaith Youth Core berdiri dan bekerja sama dengan berbagai kampus dan berinteraksi dengan segenap elemen yang ada dalam universitas tersebut.

Adalah Eboo Patel, seorang Ismaili Amerika dari Gujarat, yang mendirikan Interfaith Youth Core sebagai hasil refleksinya saat ia masih berkuliah. Ia menyadari bahwa pembicaraan mengenai multikulturalisme dan identitas sering kali tidak melibatkan kepercayaan.

Padahal, menurut Eboo Patel, keberagaman, kepercayaan, dan tindakan membantu orang lain tidak bisa dipisahkan. Akhirnya pada tahun 2002, Eboo Patel mendirikan Interfaith Youth Core, sebuah organisasi yang mengajak anak muda untuk bebas bercakap-cakap mengenai kepercayaan mereka, namun di sisi lain, tetap menjalin kerja sama.

Dalam menjalankan misinya, Interfaith Youth Core membuat program berdasarkan tiga aktivitas utama, yaitu learn-lead-connect (belajar-memimpin-bertemu). Ketiga kegiatan ini dapat memberikan ruang interaksi bagi anak muda dan kesempatan bekerja sama. Dengan interakasi dan kerja sama, anak-anak muda akan belajar bertoleransi dan merayakan perbedaan.

Lihat profil para perawat keragaman, di sini.

Lingkar Perdamaian Agama

Didirikan pada Juni 2000, United Religions Initiative lahir dari kegelisahan seorang rohaniwan, Uskup Swing, yang diutarakan 7 tahun sebelumnya. Ia berkata, jika Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan upaya perdamaian, lalu agama-agama seharusnya dapat menjadi medium gerakan perdamaian juga.

Banyak orang yang tergerak akan pertanyaan tersebut dan akhirnya membentuk United Religions Initiative, sebuah organisasi yang ingin menjembatani perbedaan budaya dan keyakinan antara individu, kelompok, hingga dunia.

United Religions Initiative memiliki Cooperation Circles, yaitu bagian kecil dari United Religions Initiative yang akan bergerak sesuai dengan kondisi komunitas mereka masing-masing. Jawaban dari kekhawatiran Uskup Swing tersebut diterjemahkan dalam bentuk bantuan bagi komunitas yang tentunya merupakan bentuk kolaborasi berbagai macam keyakinan.

Masalah-masalah yang ditangani termasuk keberlanjutan lingkungan, pendidikan, hak asasi manusia, hingga pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

United Religions Initiative semakin berkembang dan menjadi salah satu organisasi yang mendukung Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam menjaga perdamaian, terutama dari segi toleransi antarkeyakinan dan kebudayaan. United Religions Initiative juga berkolaborasi dengan organisasi lain, seperti Women’s Earth Alliance.

Dua organisasi ini menghasilkan The Ripple Academy, sebuah program yang membantu perempuan untuk berperan dalam memelihara lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya. Saat ini, United Religions Initiative masih terus menggaungkan kolaborasi baik secara regional mau pun global untuk mempromosikan perdamaian.

Baca juga:
Rumaru Mengubur Dendam di Parigi