Nama Saya Aswar Sandi, lahir dan besar di Maros, Sulawesi Selatan. Saat ini saya menempuh pendidikan S2 di Imperial College London, Inggris untuk jurusan Ilmu kedokteran biomolekular untuk penyakit kanker dan infeksi.

Semasa di London saya tinggal di sebuah share house dengan lima roommate yang terdiri dari dua orang Prancis, satu orang Italia, dan dua orang Spanyol. Kami hidup satu atap dan berbagi fasilitas umum seperti toilet dan dapur.

Jarak masjid tergolong jauh dari tempat tinggal saya. Untuk berkendara ke masjid tersebut membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Karena itu saya lebih banyak melaksanakan salat di rumah. Meskipun bersuara saat salat Isya Magrib dan Subuh, saya merasa sangat nyaman dan tidak mendapatkan teguran dari roommate saya.

Saya sangat akrab dengan semua roommate saya, terutama dua orang Prancis yang bernama Catherine (69 tahun) dan anaknya, Kevin (33 tahun). Mereka sangat menghargai saya terutama perihal makanan. Saya ingat ketika Natal, Catherine masak makanan tanpa bahan non halal sama sekali. Begitupun dengan teman yang lainnya. Kadang ketika kami semua berkumpul di ruang makan, kami sering bertukar pikiran mengenai agama. Akhirnya, kita tetap sepakat bahwa semua agama mengajarkan kebaikan.

Satu percakapan yang akan saya ingat selamanya adalah ketika Catherine berkata:
“Sandi, I never have a muslim friend before and I was thinking muslim people are closed and arrogant. But you know what? you teach me that muslim people are beautiful. I will love you forever”

(“Sandi, saya tidak pernah memiliki teman muslim sebelumnya, dan saya dulu berpikir bahwa orang muslim itu tertutup dan sombong, tapi kamu telah mengajarkan saya bahwa muslim itu indah, aku menyayangimu selamanya)”.

Sandi (paling kanan) dengan teman-temannya yang beragam latar belakang. (Dok pribadi)

Sebelum berangkat ke Inggris, saya sempat was-was. Hal yang paling saya khawatirkan adalah mengenai diskriminasi ras. Namun setelah saya bertemu dengan roommate dan teman-teman kuliah saya yang sangat hangat dan baik serta menerima saya, hal ini tentu menghilangkan semua beban yang ada.

Saya pun semakin yakin bahwa diluar sana, muslim masih diterima dengan sangat baik dan saya harus membawa citra muslim sebaik-baiknya untuk menghapuskan berbagai stigma yang ada. Saya semakin menjunjung tinggi toleransi kepada kaum minoritas sebagaimana saya mau diperlakukan.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Yang ini gak kalah seru:
Ceritaku Menjadi Minoritas di India
Saya Tidak Pernah Dengar, Tapi Suara Ibu Mengaji itu Bagus!