Saya Aren. Amalia Nan Renjana, kepanjangannya. Saya asal Depok dan kebetulan bisa tinggal di Italia selama satu tahun. Tepatnya di desa Budrio di pinggiran kota Bologna, Saya hidup bersama keluarga angkat (hostfamily) dengan sepasang orangtua, tiga kakak laki-laki, dan seekor anjing bernama Kelly. Saya hidup biasa seperti layaknya pelajar seumur saya di sana.

Kira-kira dua bulan setelah mulai bersekolah, saya mulai bisa berbahasa Italia. Kelas kami sedang pada jam pelajaran scienze umane (ilmu sosial). Saya terkejut, si guru tiba-tiba menanyakan pendapat saya mengenai terorisme. Kemudian saya memulai cerita dengan kalimat ini:

“Ciao, mi chiamo Amalia. Sono musulmana, ma non sono pericolosa”
“Halo, nama saya Amalia. Saya seorang muslim, namun saya tidak berbahaya”

Serentak seisi kelas tertawa geli dan sejak hari itu, semua orang banyak yang bertanya bagaimana muslim beribadah, apa itu Ka’bah, mengapa seseorang harus berpuasa, dan masih banyak lagi. Mereka tak selalu mengerti dan menyetujui jawabanku, namun mereka mau menerimanya. Mereka tidak mendebat, namun hanya mengangguk.

Ternyata, kalimat sederhana itu begitu melekat pada seorang sahabat bernama Chiara. Pada hari terakhir saya tinggal di Italia, dia berkata, “ketika saya mendengar kalimatmu itu, saya berubah pikiran tentang orang islam. Kamu berbeda sekali, kamu lucu! Saya ingin berteman denganmu sampai tua!”

Desember pun tiba diiringi dengan nuansa Natal di mana-mana. Suatu acara makan malam di Bologna diadakan bersama beberapa siswa pertukaran pelajar dari berbagai negara lain yang menjalani program yang sama beserta keluarga angkat masing-masing. Malam itu, kami diminta untuk menceritakan bagaimana kami merayakan Natal di negara masing-masing.

Dok. Pribadi

Saya tentu tidak pernah merayakan Natal di Indonesia. Alih-alih bercerita tentang Natal, Saya menceritakan tentang bulan Ramadan, berpuasa, Idul Fitri, dan ruwetnya mudik di Tanah Air. Di akhir presentasi, Saya berpesan, “walau cara kita beribadah dan merayakan hari besar yang berbeda, kita selalu berbagi nilai yang sama, yaitu kebersamaan dan kebahagiaan.”

Setelah selesai berbicara, Saya melihat ke sekeliling dan banyak orang berdiri untuk bertepuk tangan. Bukan, bukan karena mereka senang melihat orang Asia bisa berbahasa Italia, namun mereka begitu memahami apa yang ingin saya sampaikan. Seorang ibu kemudian menghampiri saya untuk berjabat tangan sambil menangis terharu. Ia berkata:

“Il mondo ha bisogno di una persona come te. Grazie di cuore.”
“Dunia ini membutuhkan orang sepertimu. Terima kasih banyak.”
Kemudian Ia memelukku.

Bercerita soal teman sesama pertukaran pelajar, Saya memiliki sahabat dari Denmark. Namanya Babette. Suatu sore, kami berbelanja di toko kuno dan berjalan-jalan. Maghrib pun tiba dan saya harus salat. Anehnya, Babette yang mengingatkan saya salat sebelum saya meminta izin untuk mencari musala. Dia pun bersikeras ingin ikut ke musala. Akhirnya, saya dan Babette berhasil sampai di sebuah musala kecil.

Hati saya tidak berhenti tergetar melihat Babette yang minta diajarkan berwudhu, memakai kerudung, dan meniru gerakan ketika saya salat. Setelah selesai salat, saya memeluknya dan kami menangis bersama. Padahal, Babette adalah seorang ateis, ia memilih untuk tidak beragama. Namun, itu sama sekali tidak menutupi jati dirinya yang berhati besar dan penyayang.

Pengalaman-pengalaman tersebut begitu berharga dan tak akan terjadi apabila tak ada perbedaan, jika saya tak pernah merasakan menjadi minoritas. Dari pengalaman tersebut, saya bersyukur menjadi seseorang yang berbeda. Rasanya, sebuah kekuatan timbul dalam diri saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Saya menemukan tujuan hidup, yaitu berbagi pemahaman, dialog, dan empati yang dapat menjembatani perbedaan.

Saya menyadari bahwa semua keindahan di bumi ini ada karena adanya perbedaan. Tak akan indah jika semua bunga berwarna putih. Tidak akan indah jika semua pemandangan sama saja. Bukankah begitu?

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Coba cek yang ini: Aku Satu-satunya Berhijab di antara Puluhan Mahasiswa