Penuhnya populasi mobil, motor, dan angkutan umum rasanya membuat aktivitas berjalan kaki di Jakarta tak lagi nyaman. Para pejalan kaki kerap kali harus tabah berbagi dengan pedagang kaki lima dan bahkan motor yang sengaja lewat dan parkir di trotoar.

Meski begitu, aktivitas berjalan kaki dimaknai lebih oleh Farid Mardhiyanto, penggagas Jakarta Good Guide, tur keliling Jakarta dengan berjalan kaki yang ia mulai tahun 2014.

“Berjalan kaki, terutama di Jakarta, bisa membentuk empati terhadap para pejalan kaki dan memahami betapa infrastruktur di kota ini belum memprioritaskan pejalan kaki,” ungkap Farid.

Baca artikel lainnya: Di Kali Oyo, Kebinekaan Menguat.

Siapa sangka, berempati terhadap yang terpinggirkan, berempati pada perbedaan dan kemajemukan juga bisa dirasakan saat berjalan kaki menelusuri pojok-pojok Jakarta.

Hal itu pula yang coba dilakukan Jakarta Good Guide bersama Seratus Persen Manusia saat menginisiasi program jalan kaki bertema keberagaman bertajuk “A Walk To Understand”. Hingga saat ini, program tersebut sudah dilaksanakan empat kali dengan total peserta sebanyak 179 orang.

Titik-titik perhentian pada program “A Walk To Understand” merupakan tempat-tempat ibadah yang ada di sekitar Pasar Baru, Jakarta Pusat. Dimulai dari Masjid Istiqlal. Katedral Jakarta, Hare Krishna Temple, Sai Baba, Temple Sikhisme, Kantor Saksi Yehuwa, Klenteng Sin Tek Bio, dan berakhir di Gereja PNIEL.

Bekal Perbedaan

Dari perjalanan ini, ada begitu banyak kesan yang diterima Farid. “Beberapa orang mengaku belum pernah masuk ke masjid, katedral, ataupun klenteng. Beberapa peserta juga tidak tahu kalau sikhisme itu ada di Indonesia, bisa jadi karena tidak diakui secara resmi oleh pemerintah,” kenangnya.

Farid Mardhiyanto

“Warga Jakarta sebenarnya adalah masyarakat dengan toleransi sangat tinggi. Kita bisa lihat dari budaya yang tumbuh di sini. Belakangan toleransi ini terlihat terusik, menurut saya, hanya karena urusan politik,” lanjutnya.

Sebagai pemandu wisata, Farid kerap berjumpa dengan perbedaan. Ia harus membekali dan membuka diri dengan rupa-rupa referensi sejarah budaya yang dibaca dan baginya itu membantunya dalam bertoleransi terhadap perbedaan.

“Selain itu, interaksi saya dengan orang berlatar belakang berbeda-beda membuat saya mengerti bahwa budaya, negara, bangsa, agama saya bukanlah yang paling hebat dan menyadari ada begitu banyak perbedaan di dunia.”

(Foto: Dok. Jakarta Good Guide)

Artikel menarik lainnya:
Bangunan-Bangunan Ini Berdiri Karena Toleransi! Apa Saja, Ya?
Ini Dia 10 Kota Paling Toleran di Indonesia