Saya Difa, usia 25 tahun. Meski tinggal di perbatasan kota Bekasi dan Jakarta, tapi “rumah” saya sesungguhnya ada di berbagai penjuru dunia.

Kenapa begitu? Semua berawal saat saya mengikuti program AIESEC selama hampir 2 bulan ke Romania pada tahun 2014 lalu. Itu adalah pertama kalinya saya pergi ke luar negeri sendirian tanpa wali. Program saya diikuti oleh lima orang lainnya yang berasal dari negara yang berbeda-beda yang di-manage seorang “bule” Romania.  Saya ingat pertama kali jalan dengannya, saya membantunya menahan keran untuk mengisi tap water ke dalam botol minumnya setelah melihat dia kesulitan mengisinya sendirian.

Setelah itu kami mengobrol panjang sampai akhirnya saya bilang bahwa saya seorang muslim (pada waktu itu saya belum menggunakan hijab sehingga orang tidak akan langsung mengetahui identitas saya). Lalu dengan muka terkejut dia mengatakan “I didn’t know there is a nice muslim too” (Saya tidak tahu ada orang muslim yang baik juga). Betapa sedih hati saya mendengar kalimat tersebut. Namun disisi lain saya paham karena pada masa tersebut sering terjadi kasus kejahatan yang dilakukan oleh kelompok ekstrim yang mengatasnamakan Islam. Pada akhirnya, kami pun menjadi teman baik.

Selama di sana, saya berusaha semaksimal mungkin menjaga ibadah saya. Hal tersebut tidaklah mudah, selain tidak adanya fasilitas, juga karena teman-teman yang asing dengan pemandangan orang sembahyang. Bahkan teman saya pernah berteriak melihat saya salat karena saya menggunakan mukena berwarna putih. Beberapa kali saya harus menjelaskan dan menjawab pertanyaan seputar agama Islam kepada mereka. Baik mengenai ibadah hingga pertanyaan apa benar Islam membenarkan untuk membunuh yang tidak sepaham dengan mereka?

Saat program sudah selesai kami semua menangis karena akan berpisah. Dalam waktu dua bulan kami menjadi dekat dan rasanya berat sekali meninggalkan satu sama lain. Pengalaman pertama saya menjadi minoritas ini mengajarkan saya, jika kita yakin dengan sebuah kepercayaan, berarti kita juga harus memiliki pengetahuan tentang kepercayaan tersebut.

Pada tahun 2018 akhir saya berangkat ke Kota Oxford, Inggris untuk melanjutkan studi S2. saat itu saya sudah menggunakan hijab. Tentu saya memiliki kekhawatiran tersendiri, terutama akan diskriminasi terhadap muslim karena saya sudah terang-terangan memperlihatkan identitas saya. Disana saya tinggal di asrama bersama lima orang lainnya yang berasal dari negara berbeda-beda. Pada awal kuliah saya cukup khawatir akan nasib kehidupan sosial saya. Namun dengan bekal pengalaman saya di Romania empat tahun sebelumnya, saya berinisiatif untuk mengajak ngobrol duluan semua teman kelas saya sampai-sampai teman India saya bilang “you have so many friends”.

Dok. Pribadi

Selama disana banyak teman-teman internasional saya banyak yang mempertanyakan tentang hijab, Alhamdulillah karena sudah mencari tahu terlebih dahulu, saya bisa menjelaskan kepada mereka. Semua orang disekitar saya sangat baik termasuk dosen pembimbing saya. Waktu itu saya dari jauh hari sudah janjian meeting dengan beliau di tanggal yang ternyata adalah hari Lebaran. Karena ingin melaksanakan sholat Eid di KBRI London, tiga hari sebelumnya saya mengajukan meeting dimajukan sehari dengan alasan lebaran tersebut. Saya senang sekali permohonan saya dikabulkan. “I would not wish you to miss the start of such an important celebration,” (Saya tidak ingin kamu melewatkan ibadah yang penting ini) kata beliau.

Saya beruntung karena di Oxford penduduknya cukup beragam dengan tingkat terbilang tinggi. Pada bulan Ramadan pun, komunitas muslim di kota Oxford membuat acara iftar yang dibuka untuk umum. Lalu komunitas muslim juga diundang iftar oleh komunitas kristiani, how amazing is that!

Atas pengalaman ini lah saya belajar bahwa kunci toleransi adalah keramahan. Prinsip manusia pasti saling bergesekan, tetapi hal itu bukanlah penghalang untuk bersikap baik kepada orang lain. Dengan bersikap ramah, kita bisa membuka pintu komunikasi dengan orang lain dan membuat kita saling memahami.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Baca artikel menarik lainnya:
Aku Satu-satunya Berhijab di Antara 60 Mahasiswa
Saya Amalia, Seorang Muslim, Namun Tidak Berbahaya