Saya Alivia Alfiarty, lahir dan besar di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Keluarga saya yang beragama Islam tinggal di kampung Katolik dan kami menjadi satu-satunya keluarga muslim di situ. Hingga saya SMP, baru hanya ada dua keluarga muslim di lingkungan tempat tinggal kami. Meski demikian kami sekeluarga tidak pernah mengalami diskriminasi sebagai minoritas di kampung. Saya dan adik saya juga berteman dengan anak-anak sebaya di kampung.

Keluarga kami tidak pernah absen berkeliling untuk silaturahmi dengan tetangga saat Natal, begitu pula saat kami merayakan Idul Fitri. Semua tetangga datang ke rumah kami untuk mengucapkan selamat. Warga di kampung juga selalu bergantian membuat doa bersama untuk menyambut Paskah (seperti pengajian bagi orang muslim) dan melakukan kirab saat Paskah. Bahkan saat ada hajatan warga, mereka selalu menyediakan makanan halal untuk tamu-tamu muslim.

Masa berlanjut setelah saya menamatkan S1. Saya berkesempatan untuk melanjutkan studi di Christchurch, New Zealand. Tidak ada persiapan khusus untuk menjadi minoritas, karena saya lahir dan besar di kampung sebagai minoritas. Saya tinggal bersama teman-teman yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya. Kami hidup bersama, berbagi satu rumah tanpa ada konflik. Mereka tidak pernah keberatan saat saya berisik di pagi hari (salat subuh membuat saya menjadi “morning person”).

Saya juga tidak pernah mempermasalahkan saat mereka memasak makanan non halal. Saya menjelaskan pada mereka bahwa saya tidak bisa mengkonsumsi makanan tertentu sehingga saya menyiapkan peralatan masak saya sendiri. Mereka mengerti dan tidak pernah menggunakan perabotan saya.

dok.pribadi

Baca juga: Saya Tidak Ingin Kamu Melewatkan Ibadah Penting Ini!

Saya memiliki banyak teman muslim di Christchurch. Di Jurusan saya ada enam orang muslim termasuk saya. Mereka berasal dari Iran dan Pakistan. Saat bulan ramadhan, kami sering mengadakan acara buka puasa bersama dengan mengundang teman-teman jurusan kami yang lain. Saya tidak menemukan hambatan apapun saat menjalankan ibadah puasa di sana. Orang-orang bebas dengan jadwal makannya masing-masing. Kantin tetap buka.

Saat jam makan siang ramai orang makan di mana-mana. Hal tersebut sama sekali tidak mengganggu iman saya dalam menjalankan ibadah puasa. Mungkin hal itu sama sekali tidak menjadi masalah karena sejak kecil saya berada di lingkungan tinggal dan sekolah sebagai seorang minoritas sehingga sudah terbiasa dengan kondisi demikian. Toh teman-teman saya tetap menghormati kami yang sedang berpuasa.

Hidup sebagai seorang muslim di Christchurch sama sekali tidak menjadi kendala bagi saya. Bahkan bagi teman-teman saya yang berjilbab. Semua bisa bersekolah dengan nyaman, bisa memperoleh pekerjaan, dan bisa beribadah dengan aman. Setelah tinggal di Christchurch selama dua tahun, saya merasa perlu untuk menjadi lebih toleran. “Aku dengan agamaku dan kamu dengan agamamu”. Saling menghargai sangat penting untuk diterapkan dalam hidup bersosial. Tidak banyak perubahan yang saya peroleh terkait hidup bertoleransi, mungkin karena saya sudah terbiasa hidup di sebuah lingkungan sebagai seorang minoritas. Terima kasih untuk kampungku yang mengajarkan ku tentang indahnya keberagaman.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Artikel lain yang asyik untuk dibaca:
Kamu Sedang Puasa, Apa OK Kalau Kami Membeli Kopi?