Apa yang ada di benak kamu jika mendengar kata “India”?

Saya Nadiyah Ramadhani, berasal dari Makassar. Sekarang saya tinggal dan bekerja di kota Pune, India. Sebelumnya, saya tinggal di salah satu desa bernama Sampurna Nagar di Uttar Pradesh, perbatasan antara Nepal dan India. Walaupun sama-sama berlokasi di India, keduanya memiliki kondisi yang berbeda. Pune, tempat tinggal saya sekarang merupakan salah satu kota metropolitan, yang dipenuhi oleh perusahaan IT kelas dunia. Sedangkan Sampurna Nagar, adalah desa yang memiliki akses transportasi terbatas.

Muslim adalah agama minoritas di India. Sementara beberapa orang yang saya kenal menganut agama Islam pun melakukan peribadatan dan kepercayaan yang cukup berbeda. Sebagai muslim, saya sering ditanya tentang penggunaan hijab. Mereka sangat penasaran mengapa saya rela menutup kepala saya, bahkan ketika cuaca sangat panas sekalipun.

Mereka selalu meminta saya untuk membuka jilbab. Tentu bukan karena mereka tidak menghargai saya, melainkan karena mereka penasaran akan warna dan bentuk rambut saya. Beberapa orang mengatakan saya sangat cantik ketika menggunakan hijab.

Di Kota Pune, saya bisa melihat bahwa semua orang menghargai keberadaan saya sebagai seorang muslim. Teman-teman saya, tidak memasak babi di apartemen kami karena mereka tahu saya tidak makan daging babi. Untuk orang-orang Hindu, mereka juga paham bahwa saya adalah non-vegetarian. Sendok dan makanan kami pun terpisah.

Dok. Pribadi

Saya sangat merasa dihargai walaupun di tempat tertentu, persoalan kecil seperti makanan menjadi hal yang sangat sensitif. Ada beberapa orang yang pernah memojokkan saya karena saya non-vegetarian, ada juga yang berperilaku sedikit sinis karena saya muslim. Mungkin ini terjadi karena konflik antara Muslim dan Hindu terjadi cukup intens di India. Butuh waktu bagi mereka untuk menerima keberagaman yang ada. Namun lambat laun saya melihat mereka mulai menerima perbedaan dan menjadi lebih ramah pada orang yang berbeda dari mereka.

Saya memahami bahwa menerima keberagaman itu tidak mudah bagi semua orang. Selama tinggal di India, saya mengerti bahwa toleransi bukan hanya soal menerima perbedaan, namun juga tentang sikap kita terhadap perbedaan itu sendiri, dan tetap berbuat baik terhadap sesama. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri dan membuka diri terhadap keberagaman, seraya membuktikan bahwa kita sama dengan orang-orang
lainnya.

Pengalaman ini juga mengajarkan saya bahwa kehidupan ini sangat indah rasanya ketika kita saling menghargai satu sama lain, tidak merasa bahwa kita superior dari orang lainnya. Keberagaman akan selalu menarik bagi saya.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Baca juga: 
Saya Tidak Menyangka Dia Akan Menjawab Seperti itu!

11 Hari di Desa Kashiwajima