Saya Elyfiah Wandany asal Makassar, Sulawesi Selatan. Selama satu tahun di Jepang, saya tinggal dan belajar di Onomichi, Hiroshima. Di kota ini penduduk umumnya adalah lansia dan masih aktif bekerja, dan sebagian besar merupakan pemeluk Budha dan Kristen. Itulah kenapa banyak ditemukan kuil dan gereja di kota ini.

Sebagai muslim, saya menjadi minoritas dengan hampir semua penduduknya beragama di luar Islam.  Azan tidak pernah terdengar, karena memang tidak ada masjid. Namun, hal itu bukan penghalang untuk tidak beribadah. Alhamdulillah, saya tetap merasa dihargai pihak sekolah dengan memberikan tempat untuk beribadah.

Ada kejadian unik saat saya harus menjalani puasa Ramadan. Sebenarnya jauh hari sekolah kami sudah membuat jadwal acara makan bersama siswa baru. Namun setelah mengetahui beberapa dari kami ada yang sedang berpuasa, maka hal tersebut diundur sampai kami selesai menjalankan puasa Ramadan.

Ada satu pengalaman yang tidak pernah saya lupakan, yaitu saat Festival Hanabi (kembang api) di musim panas. Setiap orang yang datang ke festival itu, memakai kimono dan yukata, tetapi saya memilih menggunakan hijab. Saya menyadari, hampir semua mata melihat ke arah saya. Kemudian teman saya mengajak saya membeli minuman, dan tiba-tiba penjual minuman memberi salam kami dengan mengatakan “Assalamualaikum”, saya pun terkejut dan menjawab salam mencoba bertanya asal penjual tersebut. Beliau ternyata berasal dari Thailand. Meski bukan beragama Islam, ternyata dia mengenal Islam. Bahkan orang tersebut kemudian menjelaskan tentang Islam kepada orang Jepang yang dari tadi memperhatikan penampilan dan pakaian saya.

Elyfiah saat bersama teman-temannya di Jepang (Dok: pribadi)

Berteman apalagi serumah dengan pemeluk agama lain juga tidak mudah. Kami harus berbagi kulkas bersama, sehingga otomatis saya harus menjaga makanan saya agar tidak tercampur dengan daging yang lain. Namun sisi baiknya, saya juga dapat mempelajari dan mendapat pengetahuan baru mengenai mereka dan agama mereka.

Dari pengalaman selama satu tahun di sana, saya merasa bersyukur. Selain saya bisa belajar, saya juga bisa memperkenalkan Islam ke sebagian orang yang ada di Onomichi. Hal penting lainnya yang saya rasakan adalah saya merasa sangat dihargai sebagai muslim, di wilayah yang agama Islam sama sekali tidak dikenal. Jika pada awalnya, saya sempat tidak diizinkan melaksanakan lebaran, namun setelah diberi penjelasan mereka akhirnya paham jika itu merupakan ibadah setelah kami menjalankan puasa selama sebulan. Serta jika sedang ibadah, teman-teman beragama lain bersedia menunggu hingga saya selesai melaksanakannya. Dari hal tersebut saya belajar tentang saling menghargai dan toleransi.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Baca artikel menarik lainnya:
Aku Satu-satunya Berhijab di Antara 60 Mahasiswa
Serunya Bertukar Makanan di Adelaide