Hampir 4 tahun berlalu, namun saya masih terkenang akan pengalaman indah dan berharga itu.

Saya Kamalia, muslim dan asli anak Betawi, alias anak Jakarta. Dulu setelah lulus S1, tepatnya pada 2016-2017, saya memberanikan diri mengikuti suatu program pengabdian masyarakat. Saya ditempatkan di sebuah desa kecil bernama Desa Yamli, di kaki pulau Halmahera, Maluku, sebagai seorang guru bantu.

Setelah mengetahui lokasi penempatan, perasaan saya campur aduk. Artinya, saya akan hidup selama satu tahun, sendirian dan bertemu orang-orang baru dan berbeda, dengan mayoritas beragama Kristen (hanya 4 KK yang beragama islam), tanpa masjid, tanpa listrik dan sinyal, air harus menimba dan bahasa yang berbeda.

Desa Yamli sendiri merupakan salah satu desa yang mengalami tragedi Perang Poso-Ambon di tahun 1998-1999. Saya mendapati cerita dari papa piara (orang tua asuh saya disana) bahwa mereka selama satu tahun tinggal di hutan-hutan untuk melindungi diri dari perang antar agama ini. Tentu fakta ini membuat saya bertanya apakah mampu beradaptasi dan akan diterima disana?

Perasaan takut dan khawatir saya pun sirna dengan senyuman dan kebaikan dari anak-anak, keluarga piara, dan masyarakat Desa Yamli. Saya tinggal dengan keluarga piara yang berbeda agama dengan saya, papa piara adalah kepala desa. Ia selalu bertanya kepada saya sebelum memberi makanan, apakah saya bisa makan ini, makan itu. Keluarga dan masyarakat paham ada makanan tertentu seperti daging babiyang tidak bisa saya makan, sehingga mereka selalu memberi makanan seperti ikan, kasbi (singkong), dan batata (ubi).

Saya teringat ada kejadian lucu saat berada di sekolah. Linda anak murid saya bersembunyi ketika sedang memakan daging babi. Ia tidak mau saya melihatnya. Setelah saya ceritakan, Linda menjadi paham bahwa Ibu guru (saya) tidak bisa memakan daging babi, tapi Ibu guru tidak akan marah dan benci Linda yang memakan babi.

Bersama murid-murid sekolah

Ada pula kejadian yang mengharukan ketika waktu Magrib dan Isya tiba. Anak-anak yang biasanya dari sore sampai malam mampir ke tempat tinggal saya untuk belajar tambahan, saling mengingatkan satu sama lain untuk tidak berisik ketika saya hendak masuk ke kamar untuk salat. Padahal saya tidak pernah melarang mereka.

Terdengar suara Romi dan Ronal mengingatkan teman-temannya,

“Heh ngoni-ngoni jang pada baribut, bu guru ada solat!”
(“Kalian jangan berisik, ibu guru lagi salat).

Di lain waktu, ketika saya sedang mengaji di kamar, saya merasa di luar (dekat pintu) seperti ada orang. Ketika selesai, saya membuka pintu dan ternyata ada Beni (remaja putus sekolah). Saya pun bertanya,

“Ngana biki apa kong di sini?”
(“Kamu lagi ngapain di sini?”)

Beni menjawab,

“Ibu, dorang tara pernah mendengar orang mengaji, Ibu pe suara bagus, kita senang mendengarnya”
(“Ibu, kita tidak pernah mendengar orang mengaji, suara mengaji ibu bagus, saya senang mendengarnya”)

Saat itu saya langsung terdiam dan terharu, bukan karena pujian, tetapi karena Beni, remaja yang tak pernah mendengar orang mengaji dan berbeda agama dengan saya, tidak merasa terganggu dan justru menghargai apa yang saya lakukan.

Saya dan anak-anak sangat dekat, suka berbagi cerita. Mereka tak sungkan datang membawa al-kitab, bercerita kegiatan ibadah yang dilakukan, serta mereka menyanyikan lagu 12 murid Yesus dan lagu lainnya. Saya menjadi tahu bahwa di hari minggu adalah waktu mereka beribadah maka saya tidak pernah mengadakan kegiatan belajar di hari Minggu.

Satu tahun tinggal bersama mereka banyak memberi pelajaran, salah satunya mengenai indahnya toleransi dan saling menghargai perbedaan. Awalnya saya tidak berekspektasi bahwa mereka akan menganggap saya seperti keluarga. Mengingat, mereka memiliki pengalaman traumatis akan perang agama. Pengalaman ini menambah keyakinan saya bahwa kita bisa hidup berdampingan, saling menghargai. Menambah keyakinan bahwa iman adalah urusan masing-masing, dan perbedaan bukanlah halangan.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Bacaan yang gak kalah asyik:
Kamu Sedang Puasa, Apa OK Kalau Kami Membeli Kopi?
Serunya Bertukar Makanan di Adelaide