Halo, nama saya Nida Amalia. Saya berasal dari Jember, Jawa Timur. Saat ini, saya sedang menempuh pendidikan S2 di University of Queensland, Australia. Rencananya, studi saya akan selesai dalam waktu dua tahun.

Selama kuliah, teman-teman saya sangat mengerti tentang keperluan saya untuk salat lima waktu. Saat belajar bersama maupun saat ada kerja kelompok, saya sering izin untuk menunaikan salat dan tidak pernah mengalami pengalaman tidak baik dengan teman saya karena hal ini. Saya pernah menghadapi kondisi dimana jam kuliah saya dimulai sebelum Zuhur dan selesai tepat setelah azan Ashar. Tidak ada kesempatan untuk salat, sehingga saya selalu keluar di tengah perkuliahan untuk salat dan kembali lagi setelahnya.

Pada minggu terakhir kuliah, terdapat presentasi kelompok yang nilainya memiliki porsi yang cukup besar. Saya khawatir tidak bisa salat saat itu. Saya menceritakan hal ini pada teman-teman saya dan mereka membantu saya untuk bernegosiasi dengan dosen saya. Akhirnya presentasi kami berlangsung dengan lancar, saya menjalankan salat sebelum perkuliahan dimulai, sehingga sedikit terlambat. Teman-teman dan dosen saya sangat maklum akan tersebut. Terlebih, materi presentasi yang saya sampaikan terdapat di bagian tengah sehingga tidak ada masalah. Saya sangat senang karena kelompok saya sangat pengertian. Kejadian itu berlangsung tahun lalu saat Ramadhan.

Nida bersama teman-teman kuliahnya (Dok. Pribadi)

Lucunya, saat sedang kerja kelompok, kadang mereka ingin membeli kopi dan selalu meminta ijin dulu kepada saya “Kami ingin membeli kopi, apakah tidak apa apa?” Ya tentu saya jawab “Ya, tentu saja, selama kamu mau membelikan saya juga nanti!” sambil tertawa. Saya hanya bercanda, tapi memang bau kopi cukup menggoda di tengah mengerjakan tugas. Saat Ramadhan, aktivitas disini tetap berjalan normal. Puasa itu hakikatnya adalah menahan diri. Saling menghargai dengan tetap membuat nyaman orang-orang di sekitar kita yang tidak menjalankannya.

Di kampus, saya salat di sebuah gedung yang disediakan untuk ibadah. Di dalam gedung tersebut sudah dibagi menjadi beberapa ruangan untuk setiap agama. Saat ada ibadah salat Jumat, banyak sekali jamaah yang datang sehingga harus menggunakan tempat ibadah umat lain. Tidak ada gesekan sama sekali. Bahkan saat ada insiden penembakan di Christchurch, kampus menyelenggarakan salat untuk menghormati korban dan kami mendapat banyak pesan positif dalam bentuk sticky notes yang menunjukkan keprihatinan atas kejadian tersebut.

Ternyata, hidup sebagai seorang Muslim disini tidak sesulit yang saya bayangkan. Yang terpenting adalah saling menghargai satu sama lain. Tidak perlu dengan sesuatu yang berlebihan, cukup dengan memberi respon yang positif dan tidak menghakimi keyakinan maupun adat dari kelompok lain.

Artikel ini merupakan rangkaian kampanye #temangakpakebeda, kerjasama toleransi.id, Indika foundation, dan Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Baca artikel menarik lainnya:
Aku Satu-satunya Berhijab di Antara 60 Mahasiswa
Saya Amalia, Seorang Muslim, Namun Tidak Berbahaya