Kalimat di atas tak pernah absen terpampang di mana pun SabangMerauke hadir. SabangMerauke adalah program pertukaran pelajar yang bertujuan untuk mengajarkan toleransi, pendidikan, dan keIndonesiaan.

SabangMerauke diadakan setiap tahun satu kali selama 21 hari. Anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Jakarta dan tinggal dengan keluarga yang berbeda latar belakang.

Bersama dengan keluarga tersebut, mereka saling “belajar” mengenai toleransi, dan mengikuti program bersama seorang kakak yang juga berbeda latar belakang.

SabangMerauke percaya bahwa konflik-konflik dan tindakan intoleran disebabkan karena tidak ada pertemuan dan pengenalan antarsuku mau pun antarkeyakinan.

FSM, KSM, ASM

Refleksi ini didapatkan oleh tujuh orang pendiri SabangMerauke, yaitu Ayu Kartika Dewi, Aichiro Suryo Wibowo, Dyah Widiastuti, Jourdan Hussein, Meiske Demitria Wahyu, Putri Rizki Dian Lestari, dan Tidar Rachmadi dari pengalaman mereka masing-masing.

Atas dasar itulah Sabang Merauke lahir pada tahun 2013 dalam bentuk yayasan bernama Seribu Anak Bangsa Indonesia. Anak-anak yang terpilih berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Rote Ndao, Tiakur, Natuna, Tabanan, dan masih banyak lagi.

Keluarga (Famili SabangMerauke (FSM), Kakak SabangMerauke (KSM), dan Anak SabangMerauke (ASM) merupakan tiga pilar utama yang menjadi sasaran program.

Banyak pandangan yang telah diubahkan melalui SabangMerauke, dan banyak prasangka yang sudah hancur setelah terciptanya ruang pertemuan melalui SabangMerauke.

SabangMerauke akan terus bergerak dalam merayakan keberagaman dan toleransi. SabangMerauke saat ini sedang berupaya memperluas kesempatan bagi seluruh anak di Indonesia dan lebih banyak lagi orang untuk dapat menjadi duta-duta toleransi Indonesia.

(Foto: SabangMerauke)

Cek profil organisasi lainnya:
IndoRelawan: Ubah Niat Baik, Menjadi Aksi Baik
Peace Generation: Perdamaian Lewat Kreativitas