Berjarak sekitar 350 kilometer atau delapan jam perjalanan darat dari ibukota Jakarta, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menyimpan satu keunikannya tersendiri.

Bukan karena hamparan lahan padi yang menguning dan pantai-pantainya yang masih perawan. Atau wisata sungai dan goa yang makin menarik para petualang. Tapi karena kehadiran satu sekolah dengan konsepnya yang khas.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bakti Karya Parigi berdiri sejak 2011 dan telah diakreditasi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pangandaran.

Sejak 2016, sekolah ini mengalami transformasi dengan mengembangkan sistem kelas multikultural, sebuah model pembelajaran dengan peserta didik terdiri dari siswa berlatar belakang berbeda.

Mulai dari daerah, suku, etnis, agama, kepercayaan, bahasa, dan budaya. Lima konsep kelas multikultural adalah; toleransi, perdamaian, eksplorasi budaya, kelas aktif dan terkoneksi.

Simak profil dua orang perawat keragaman ini.

Berbaur Bersama

Saat ini ada 58 siswa dari 25 kabupaten/kota dan 11 provinsi, dengan 45 di antaranya beragama Islam, 10 Katolik dan 3 Protestan. Target dalam beberapa tahun ke depan adalah merekrut 150 siswa dari sekurangnya 50 kabupaten/kota.

Di sekolah ini, para siswa berbaur dan merasakan secara langsung nilai toleransi, perdamaian, serta nilai gotong royong, yang merupakan nilai penting bangsa Indonesia yang perlu terus dijaga. Konsep ini diyakini sebagai sebuah jawaban dari persoalan merebaknya konflik horizontal yang bernuansa SARA.

Sejak digagasnya sekolah ini, para siswa dibebaskan dari seluruh biaya (uang masuk, SPP, seragam dan lainnya), termasuk pula biaya transportasi dari lokasi asal ke Pangandaran dan juga bebas biaya akomodasi bagi mereka yang tinggal di asrama.

Dalam menjalankan operasionalnya, sekolah ini sebagian besar mengandalkan partisipasi publik melalui platform crowdfunding kitabisa.com, kemudian donasi para relawan secara pribadi, dan sebagian kecil dari pemerintah melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan bantuan dari provinsi dan kabupaten.

Tantangan dan Teladan

Perjalanan sekolah ini untuk menggelorakan kembali semangat toleransi dan perdamaian tentu mengalami banyak tantangan. Dari yang mulanya mendapatkan penolakan masyarakat, hingga singkat cerita justru mendapatkan sambutan hangat.

Hal ini dikarenakan para siswa yang beragam memberikan teladan bagi masyarakat, bahwa berbeda itu biasa dan mereka bisa bekerjasama.

Sekarang, SMK Bakti Karya Parigi menjadi bahan bakar bagi penyebarluasan nilai kebaikan untuk skala yang lebih luas. Pada pertengahan Februari 2018, atas inisiatif sekolah dan pemerintah daerah, desa Cintakarya dijadikan teladan dengan diresmikannya Kampung Nusantara oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata.

Sebuah komitmen awal yang besar baru saja dimulai. Dengan komitmen dan hasrat masyarakat untuk menjadikan desanya sebuah komunitas yang inklusif, toleran dan menghargai perbedaan. Semoga menjadi contoh bagi Indonesia kita.

(Teks: Day Firman, Videografer: M. Khadafi)

Baca juga ini:
Rumaru Mengubur Dendam di Parigi
Cara yang Patut Dicoba untuk Membuat Temanmu Lebih Toleran